Hei kamu, ya kamu
Belum pernah aku setidak bersemangat ini sebelumnya, apalagi ketika ada seorang lelaki yang mengulurkan tangannya padaku dengan ucapan janji "Ya aku akan menjagamu"
Bagaimana aku bisa melangkah kemana-mana jika kau masih mengepungku dari segala penjuru?
Ah, itu bukan kamu, itu perasaanku, ya aku mengurung diriku sendiri dalam semua kenangan tentangmu.
Lupa? Tentu saja mustahil, karena kamu bilang kita tidak dirancang untuk melupakan, kita diciptakan untuk mengingat, aku yakin aku akan terus mengingatmu.
Tapi, tampaknya aku harus mulai belajar, aku harus terima, tidak ada lagi aku dan kamu
Kini hanya ada aku dan perasaanku dan serpihan kenangan tentangmu
Perasaanku, satu-satunya hal yang ku pentingkan dalam egoisnya duniaku
Perasaanku, satu-satunya hal yang ingin ku lindungi dari keegoisanm, satu satunya hal yang membuatku mau tak mau harus belajar mengikhlaskanmu.
Ya, aku egois, perasaanku lah yang menurutku paling penting,
Tapi, hei bukankah kamu juga?
Ah tidak, bukan hanya kamu dan aku, tapi semua orang akan mementingkannya.
Pada akhirnya aku belajar darimu, hidup ini tak melulu tentang cintaku, percuma aku mendebat semua orang dengan cintaku, percuma aku berkeras dengan cintaku, jika hanya aku yang merasakan cinta dan kamu tidak, percuma aku terus berteriak cinta cinta dan cinta, karena tampaknya cinta tak sepenting itu.
Hei kamu, iya kamu
Sepertinya hari ini aku harus benar-benar menerima
wajib hukumnya, aku terima, aku harus belajar mengikhlaskan,
Biarlah saat ini aku masih terbelenggu kenangan
Akan terus ku kunjungi kenangan tentangmu hingga nanti aku jemu dan berhenti
Aku akan melupakanmu, pasti akan kulupakan.
Aku akan lupakan dengan kenangan
Akan kulupakan dengan ingatan.
(Berastagi, 19 Agustus 2018)
Menulis adalah caraku melupakan