hello girls lama banget rasanya nggak muncul didumay -_- soale kemaren sibunk banget sama dunia perskripsian :v hahaha alhamdulillah setelah lama berjuang dan bergulat dengan duini tersebut semuanya akhirnya kelar dengan hasil yang memuaskan, hahaha. saking sibuknya dengan dunia perskripsian sampai aku lupa sama dunia perskincarean, tapi belakangan aku lagi tidak mengorbankan wajahku untuk jadi tumbal :v hahaha, kali ini aku bakal coba ngepost yang namanya cerbung yang insya Allah bakal rutin diterbitkan, silahkan setelah dibaca masukkan komentar serta saran yak :D. Gamsahamnida
RAVEN(Part 1)
RAVEN
Masih ku ingat kejadian yang memicu
episode pertamaku ketika berumur 9 tahun, nenek dari pihak ibuku meninggal pada
hari itu. Nek Nur, begitulah biasa aku memanggilnya. Ketika itu semua berkata
nek Nur meninggal karena sakit, namun setelah aku dewasa aku tahu bahwa nek Nur
meninggal karena memotong pergelangan tangannya sendiri. Sebagai kanak-kanak
aku cukup dekat dengan nek Nur, ketika Ibu memarahiku biasanya aku berlari dan
bersembunyi dibelakang nenek ku, aku menyayanginya dan Ia pun menyayangiku.
Kematiannya yang tiba-tiba membuatku terpukul dan depresi, aku mengurung diriku
selama berhari-hari tanpa makan dan terlintas dipikiran untuk menyusulnya.
Mula-mula Ayah dan Ibuku berpikir ini terjadi akibat depresi dan sedih
kehilangan nenek namun kejadian itu terus berlanjut selama bertahun-tahun
sampai akhirnya mereka curiga dan membawaku ke psikiater ternama di kota ku,
dan akhirnya aku di diagnosa menderita bipolar.
Sampai umur 21 tahun aku hidup tak
terhitung sudah berapa banyak episode yang ku alami, mood swing ku yang terlalu
cepat berubah membuatku berhati-hati dalam memilih teman bergaul, sampai
akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bergaul sebab bipolar depresive yang ku
derita ini amat sangat berbahaya. Penyakit inilah yang membuat nek Nur
mengakhiri hidupnya.
“Raven Hernandita”
Aku tersentak dari lamunan ku dan
bergegas mengangkat tangan. Mata ku terpaku menatap tubuh tinggi yang berada
didepan kelas. Seorang pria yang kelihatannya berumur dipertengahan 20an
menatapku dengan tajam. Aku tidak ingat kapan ia masuk dan aku betul-betul
tidak tahu dia siapa. Matanya yang gelap menatapku dengan intens sampai
akhirnya aku jengah dan mengalihkan pandanganku ke whiteboard dibelakangnya.
ARANDA,
nama itu tertulis dengan huruf tebal dan tegas, setelah aku membacanya
pandanganku beralih kepada sosok itu yang sedang membaca daftar nama
didepannya. Aranda, Aranda, Aranda nama itu terus menggema dikepala ku.
“Apakah
masih ada yang belum diabsen?” Tanya Aranda, emm mungkin lebih tepatnya Pak
Aranda. “Tidak Pak” semua mahasiswa yang hadir menjawab serempak.
“Seperti
yang kalian baca didepan, perkenalkan nama Saya Aranda, Saya adalah teaching assistant
yang akan mengajar kalian selama 16 pertemuan kedepan, menggantikan Dr.
Hadinyoto yang sedang menyelesaikan studinya. Kegiatan perkuliahan kita terdiri
atas 14 kali kegiatan perkuliahan regular dan 2 kali ujian, yaitu ujian mid
semester dan ujian final. Saya mengharapkan partisipasi dan kerjasama kalian
dalam kegiatan perkuliahan ini” pandangan pak Aranda bertemu denganku sembari
ia menerangkan kegiatan yang akan kami laksanakan selama 16 minggu kedepan, Ia menatapku lekat-lekat,
dan seluruh kelas berputar dibelakangku, tak satupun hal yang disampaikannya
terdengar ditelingaku, hanya matanya yang dapat ku lihat dan seakan menyedotku
dalam dunia imajinasi dan menahanku disana, namun kemudian ia mengalihkan
pandangannya dan aku kembali tersentak kedalam kenyataan. Panas menjalar
dikedua pipiku, aku yakin mukaku sekarang merah padam. Apa pantas aku bereaksi
seperti ini pada teaching assistant? Pada asisten dosen? Apapun namanya dia
tetaplah Guruku.
ARANDA
“Perkuliahan
hari ini sampai disini saja, sampai jumpa minggu depan” ucapku seraya bergegas
membereskan perlengkapan mengajar yang ada dimejaku, masih ada satu kelas lagi
yang harus ku tangani sebelum hari ini berakhir. Satu per satu mahasiswa
meninggalkan kelasku. Mata ku tertumbuk pada kursi barisan belakang pada gadis
itu, yang tak lagi mengangkat kepalanya sejak mataku bertatapan dengannya.
Seharusnya aku malu pada diriku sendiri, teaching assistant macam apa yang menatap
mahasiswinya lama seperti itu, tapi tidak, tidak ada bagian diriku yang malu
akan hal itu. Gadis itu, Raven ya Raven membereskan bukunya lalu bergegas
keluar kelas tanpa mengangkat pandangannya, ia menabrak siswa yang berada di
depan pintu lalu segera berlari tanpa meminta maaf.
Raven,
nama yang cukup asing, orangtua mana yang menamai anak perempuannya Raven?
Burung gagak? Namun setelah aku mencernanya nama itu memang cocok dengannya,
rambut hitamnya yang panjang hingga pinggang berwarna hitam kelam, matanya
cokelat tajamnya seakan menembus jiwa dan melihat apa yang tersembunyi disana.
Raven cukup menarik, ia dapat dikatakan cantik dengan kulit kuning langsat,
tulang pipi tinggi, hidung mencuat serta bibirnya yang mungil namun ada satu
hal yang membuatnya terkesan misterius dan suram. Aku melihatnya melamun dengan
tatapan mata kosong kearah jendela seakan-akan ia tidak berada dikelas tapi
didunianya sendiri, mata itu tersentak ketika aku memanggil namanya. Ketika
tatapan mata ku bertahan agak lama padanya, muka gadis itu berubah merah padam
dan sejak itu ia tak lagi mengangkat kepalanya berpura-pura berkonsentrasi pada
buku catatannya.
“Pak
Aranda” suara feminim menyentakkan pandanganku dari pintu kelas, aku menoleh
dan melihat sosok didepanku. “Ya, ada yang bisa saya bantu?” ucapku sembari
tersenyum. Gadis ini menggigit bibirnya dan memilin rambut pirangnya, ia
bertingkah seperti siswi SMA yang dulu pernah kuhadapi ketika praktik mengajar
yang mungkin dulu ku anggap lucu jika siswi SMA yang melakukannya namun ini
mahasiswi tingkat 3 yang mungkin umurnya sudah 21 tahun. Aku menunggunya
selesai mengigiti bibirnya yang mungkin dianggapnya imut dan menarik perhatianku.
“Emmm
Bapak ada waktu siang ini? Ada beberapa materi yang saya tidak paham. Apa bapak
bisa menjadi tutor kami?” tanyanya sembari menyentakkan kepalanya kebelakang,
aku melihat dua temannya si rambut merah dan yang satunya syukurlah memiliki
warna rambut yang normal. Kembali ku alihkan pandangan ku pada si pirang
didepan ku sembari tersenyum palsu, perkuliahan baru saja dimulai, materi apa
yang tidak dia pahami? Aku tertawa dalam hati, namun tetap berusaha bersikap
sesopan mungkin.
“Maafkan
Saya. . .” ucapku sembari mengangkat alis “Diandra” ucapnya sembari kembali
menggigit bibirnya. “Ah ya, Diandra saya ada dua kelas lagi siang ini jadi saya
rasa tidak bisa” ucapku, Diandra kelihatan kecewa namun ia cepat-cepat
menambahkan “Kalau sore ini pak? Setelah perkuliahan berakhir?” yang satu ini
pantang menyerah kelihatannya. “Sore juga tidak bisa, saya ada mengajar les
private” jawabku, yah tidak sepenuhnya bohong, masih ada satu kelas lagi dan
malam aku memang memiliki siswa private tapi Diandra tidak perlu tahu. Sekali
lagi mata itu memancarkan kekecewaan.”Baiklah pak mungkin lain kali, permisi
pak” ucapnya sembari beranjak meninggalkan kelas sembari diikuti kedua
temannya.
Kuhela
nafas lega setelah grup itu meninggalkan ruanganku, salah satu tantangan
menjadi teaching assistant muda adalah menghadapi situasi seperti ini, tahun
ini adalah tahun kedua aku mengajar diuniversitas ini sebagai teaching
assistant. Bagaimana pun aku seorang laki-laki normal ada kalanya aku senang
dan terbawa suasana digoda oleh mahasiswi-mahasiswi yang usianya tidak jauh
berbeda dengan ku. Namun hari ini tidak, pikiranku terkunci pada Raven dan aura
misterius yang dipancarkannya.
(Bersambung. .)