Senin, 19 Oktober 2015

CERBUNG (RAVEN) Part 1

hello girls lama banget rasanya nggak muncul didumay -_- soale kemaren sibunk banget sama dunia perskripsian :v hahaha alhamdulillah setelah lama berjuang dan bergulat dengan duini tersebut semuanya akhirnya kelar dengan hasil yang memuaskan, hahaha. saking sibuknya dengan dunia perskripsian sampai aku lupa sama dunia perskincarean, tapi belakangan aku lagi tidak mengorbankan wajahku untuk jadi tumbal :v hahaha, kali ini aku bakal coba ngepost yang namanya cerbung yang insya Allah bakal rutin diterbitkan, silahkan setelah dibaca masukkan komentar serta saran yak :D. Gamsahamnida 


RAVEN(Part 1)
RAVEN
            Masih ku ingat kejadian yang memicu episode pertamaku ketika berumur 9 tahun, nenek dari pihak ibuku meninggal pada hari itu. Nek Nur, begitulah biasa aku memanggilnya. Ketika itu semua berkata nek Nur meninggal karena sakit, namun setelah aku dewasa aku tahu bahwa nek Nur meninggal karena memotong pergelangan tangannya sendiri. Sebagai kanak-kanak aku cukup dekat dengan nek Nur, ketika Ibu memarahiku biasanya aku berlari dan bersembunyi dibelakang nenek ku, aku menyayanginya dan Ia pun menyayangiku. Kematiannya yang tiba-tiba membuatku terpukul dan depresi, aku mengurung diriku selama berhari-hari tanpa makan dan terlintas dipikiran untuk menyusulnya. Mula-mula Ayah dan Ibuku berpikir ini terjadi akibat depresi dan sedih kehilangan nenek namun kejadian itu terus berlanjut selama bertahun-tahun sampai akhirnya mereka curiga dan membawaku ke psikiater ternama di kota ku, dan akhirnya aku di diagnosa menderita bipolar.
            Sampai umur 21 tahun aku hidup tak terhitung sudah berapa banyak episode yang ku alami, mood swing ku yang terlalu cepat berubah membuatku berhati-hati dalam memilih teman bergaul, sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bergaul sebab bipolar depresive yang ku derita ini amat sangat berbahaya. Penyakit inilah yang membuat nek Nur mengakhiri hidupnya.
            “Raven Hernandita”
            Aku tersentak dari lamunan ku dan bergegas mengangkat tangan. Mata ku terpaku menatap tubuh tinggi yang berada didepan kelas. Seorang pria yang kelihatannya berumur dipertengahan 20an menatapku dengan tajam. Aku tidak ingat kapan ia masuk dan aku betul-betul tidak tahu dia siapa. Matanya yang gelap menatapku dengan intens sampai akhirnya aku jengah dan mengalihkan pandanganku ke whiteboard dibelakangnya.
ARANDA, nama itu tertulis dengan huruf tebal dan tegas, setelah aku membacanya pandanganku beralih kepada sosok itu yang sedang membaca daftar nama didepannya. Aranda, Aranda, Aranda nama itu terus menggema dikepala ku.
“Apakah masih ada yang belum diabsen?” Tanya Aranda, emm mungkin lebih tepatnya Pak Aranda. “Tidak Pak” semua mahasiswa yang hadir menjawab serempak.
“Seperti yang kalian baca didepan, perkenalkan nama Saya Aranda, Saya adalah teaching assistant yang akan mengajar kalian selama 16 pertemuan kedepan, menggantikan Dr. Hadinyoto yang sedang menyelesaikan studinya. Kegiatan perkuliahan kita terdiri atas 14 kali kegiatan perkuliahan regular dan 2 kali ujian, yaitu ujian mid semester dan ujian final. Saya mengharapkan partisipasi dan kerjasama kalian dalam kegiatan perkuliahan ini” pandangan pak Aranda bertemu denganku sembari ia menerangkan kegiatan yang akan kami laksanakan selama  16 minggu kedepan, Ia menatapku lekat-lekat, dan seluruh kelas berputar dibelakangku, tak satupun hal yang disampaikannya terdengar ditelingaku, hanya matanya yang dapat ku lihat dan seakan menyedotku dalam dunia imajinasi dan menahanku disana, namun kemudian ia mengalihkan pandangannya dan aku kembali tersentak kedalam kenyataan. Panas menjalar dikedua pipiku, aku yakin mukaku sekarang merah padam. Apa pantas aku bereaksi seperti ini pada teaching assistant? Pada asisten dosen? Apapun namanya dia tetaplah Guruku.

ARANDA
“Perkuliahan hari ini sampai disini saja, sampai jumpa minggu depan” ucapku seraya bergegas membereskan perlengkapan mengajar yang ada dimejaku, masih ada satu kelas lagi yang harus ku tangani sebelum hari ini berakhir. Satu per satu mahasiswa meninggalkan kelasku. Mata ku tertumbuk pada kursi barisan belakang pada gadis itu, yang tak lagi mengangkat kepalanya sejak mataku bertatapan dengannya. Seharusnya aku malu pada diriku sendiri, teaching assistant macam apa yang menatap mahasiswinya lama seperti itu, tapi tidak, tidak ada bagian diriku yang malu akan hal itu. Gadis itu, Raven ya Raven membereskan bukunya lalu bergegas keluar kelas tanpa mengangkat pandangannya, ia menabrak siswa yang berada di depan pintu lalu segera berlari tanpa meminta maaf.
Raven, nama yang cukup asing, orangtua mana yang menamai anak perempuannya Raven? Burung gagak? Namun setelah aku mencernanya nama itu memang cocok dengannya, rambut hitamnya yang panjang hingga pinggang berwarna hitam kelam, matanya cokelat tajamnya seakan menembus jiwa dan melihat apa yang tersembunyi disana. Raven cukup menarik, ia dapat dikatakan cantik dengan kulit kuning langsat, tulang pipi tinggi, hidung mencuat serta bibirnya yang mungil namun ada satu hal yang membuatnya terkesan misterius dan suram. Aku melihatnya melamun dengan tatapan mata kosong kearah jendela seakan-akan ia tidak berada dikelas tapi didunianya sendiri, mata itu tersentak ketika aku memanggil namanya. Ketika tatapan mata ku bertahan agak lama padanya, muka gadis itu berubah merah padam dan sejak itu ia tak lagi mengangkat kepalanya berpura-pura berkonsentrasi pada buku catatannya.
“Pak Aranda” suara feminim menyentakkan pandanganku dari pintu kelas, aku menoleh dan melihat sosok didepanku. “Ya, ada yang bisa saya bantu?” ucapku sembari tersenyum. Gadis ini menggigit bibirnya dan memilin rambut pirangnya, ia bertingkah seperti siswi SMA yang dulu pernah kuhadapi ketika praktik mengajar yang mungkin dulu ku anggap lucu jika siswi SMA yang melakukannya namun ini mahasiswi tingkat 3 yang mungkin umurnya sudah 21 tahun. Aku menunggunya selesai mengigiti bibirnya yang mungkin dianggapnya imut dan menarik perhatianku.
“Emmm Bapak ada waktu siang ini? Ada beberapa materi yang saya tidak paham. Apa bapak bisa menjadi tutor kami?” tanyanya sembari menyentakkan kepalanya kebelakang, aku melihat dua temannya si rambut merah dan yang satunya syukurlah memiliki warna rambut yang normal. Kembali ku alihkan pandangan ku pada si pirang didepan ku sembari tersenyum palsu, perkuliahan baru saja dimulai, materi apa yang tidak dia pahami? Aku tertawa dalam hati, namun tetap berusaha bersikap sesopan mungkin.
“Maafkan Saya. . .” ucapku sembari mengangkat alis “Diandra” ucapnya sembari kembali menggigit bibirnya. “Ah ya, Diandra saya ada dua kelas lagi siang ini jadi saya rasa tidak bisa” ucapku, Diandra kelihatan kecewa namun ia cepat-cepat menambahkan “Kalau sore ini pak? Setelah perkuliahan berakhir?” yang satu ini pantang menyerah kelihatannya. “Sore juga tidak bisa, saya ada mengajar les private” jawabku, yah tidak sepenuhnya bohong, masih ada satu kelas lagi dan malam aku memang memiliki siswa private tapi Diandra tidak perlu tahu. Sekali lagi mata itu memancarkan kekecewaan.”Baiklah pak mungkin lain kali, permisi pak” ucapnya sembari beranjak meninggalkan kelas sembari diikuti kedua temannya.
Kuhela nafas lega setelah grup itu meninggalkan ruanganku, salah satu tantangan menjadi teaching assistant muda adalah menghadapi situasi seperti ini, tahun ini adalah tahun kedua aku mengajar diuniversitas ini sebagai teaching assistant. Bagaimana pun aku seorang laki-laki normal ada kalanya aku senang dan terbawa suasana digoda oleh mahasiswi-mahasiswi yang usianya tidak jauh berbeda dengan ku. Namun hari ini tidak, pikiranku terkunci pada Raven dan aura misterius yang dipancarkannya.

(Bersambung. .)