Rabu, 04 November 2015

RAVEN (Part 2)

RAVEN(Part 2)
RAVEN
            Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan tempatku menghabiskan waktu selama 3 tahun terakhir ini.  Astronomi adalah kelas terakhirku hari ini tapi aku belum siap untuk pulang kerumah. Pemandangan yang kulihat 12 tahun terakhir ini selalu sama dirumah, Ibu yang menatapku penuh kekhawatiran. Tentu saja Ibunya memilih jalan itu untuk mengakhiri hidupnya, mungkin Ia takut kehilanganku dengan jalan yang sama. Tatapan itulah yang ingin aku hindari. Harus ku hindari. Setelah memasukkan kartu anggota kedalam mesin scan itu, aku melangkah menuju deretan paling belakang, barisan buku-buku fiksi kesukaanku. Ku ambil notebook dari ranselku dan mulai menghidupkannya. Yah, didunia nyata aku memang tidak punya teman, tapi disini aku bisa berpura-pura menjadi orang lain, orang normal dengan kepribadian yang menyenangkan dan bukan Raven.
            Jaringan wifi diperpustakaan ini sangat bagus dan tentu saja bebas dan gratis. Setelah browserku terbuka aku mulai mengetikkan alamat dan masuk kehalaman blogku. Disini aku menulis apa saja yang terlintas dalam benakku terkadang hanya jadwalku sehari-hari, make up review, cerita bersambung, resep masakan, dan ulasan-ulasan mata kuliah yang ku harap bisa membantu. Ketika jariku sudah mulai mengetik aku akan lupa dimana aku berada dan siapa aku sebenarnya.
            Ketika aku menutup laptopku hari sudah pukul 17:30, perpustakaan akan tutup setengah jam lagi. Ku bereskan semua catatan dan notebook ku serta menyusunnya kedalam ransel. Tiba-tiba salah satu buku catatanku terjatuh dan halamannya terbuka. Aku menatap buku itu didalamnya terdapat coretan-coretan tanganku ketika mata kuliah astronomi tadi, Aranda itu yang kutulis berulang-ulang, sontak saja wajahku memerah aku cepat-cepat memungutnya dan menjejalkannya kedalam tasku. Entah bagaimana teaching assistant itu masuk kedalam pikiranku dan menguasainya. Meskipun aku tak lagi menatapnya selama perkuliahan berlangsung tapi suara dan tatapannya membuatku terbakar dikursiku.
            Suara hujan turun membuatku menghentikan langkah kakiku menuju pelatarn parkir kampus. Aku berhenti didepan gedung dan menatap butiran air itu turun dari langit. Sepertinya hari ini aku akan pulang malam lagi dan hal itu membuatku lega sekaligus takut. Aku lega pulang lebih malam akan membuatku mudah menghindari kedua orangtuaku namun aku juga takut berjalan pulang sendirian ditengah kegelapan malam.
            “Raven. .” aku tersentak oleh suara itu dan merasakan pipiku mulai terbakar, karena meskipun baru sekali mendengarnya aku tahu persis pemilik suara ini.

ARANDA
            Aku melihatnya berjalan didepanku dengan kepala tertunduk, kampus telah sepi dan mata kuliah terakhir sudah berakhir sekitar 1 jam yang lalu, namun gadis ini masih berada dilingkungan kampus yang sunyi dan berjalan dengan langkah gontai. Ku ikuti dia menuju pintu keluar dan aku merasa seperti penguntit karenanya. Sejenak langkahnya terhenti, aku pun ikut berhenti. Aku bertanya-tanya apa yang membuatnya berhenti apa dia merasakan aku mengikutinya dan ia merasa takut? Perlahan-lahan aku berjalan mendekatinya dan aku melihat apa yang dilihatnya diluar, hujan.
            Aku ragu apa aku harus mendekatinya dan menyapanya atau hanya berdiri dibelakangnya seperti penguntit. Aku berjalan mendekatinya dan berdiri disampingnya namun sepertinya ia sama sekali tak menyadari keberadaanku disebelahnya, Ia terus saja menatap curah hujan itu. Aku mengamati setiap lekuk wajah cantiknya yang menawan, hidungnya yang mungil dan mencuat dan matanya yang menarik perhatianku. Aku menatapnya lekat-lekat selama beberapa menit dan sebelum sempat kucegah aku memanggil namanya.
            Ia berbalik menatapku dan wajahnya berubah kemerahan.
            “Kamu Raven kan? Mahasiswi dikelas astronomi saya?” tanyaku sembari berpura-pura ragu. Tentu saja aku mengingatnya, sejak pertama mataku menatapnya dan lidahku mengucapkan namanya mustahil aku bisa melupakannya. Ia tak langsung menjawabku ia hanya mengkerut dan kelihatan ketakutan melihatku, namun dari rona merah dipipinya aku tahu Ia tidak hanya ketakutan.
            “Ben. .benar Pak” jawabnya sembari menunduk menatap ujung sepatunya, dengan konyolnya aku pun ikut menatap ujung sepatunya. Ah dia memakai sneakers biru. Aku menggelengkan kepalaku entah apa yang kupikirkan sehingga gadis ini bisa memberikan pengaruh kuat seperti itu padaku. Aku berdehem dan bertanya lagi.
            “Baru selesai kuliahnya?” Ia menggeleng dan menatap kedepan. Sungguh gadis ini membuatku kehilangan kata-kata. Kami terdiam setelah percakapan itu, aku kehilangan kata-kata dan ia kelihatannya tidak mau melanjutkan percakapan. Kami berdiri berdampingan menatap hujan dalam diam dan aku sama sekali tak keberatan karena bersamanya aku merasakan kenyamanan.
RAVEN
            Aku berdoa dalam hati agar hujan cepat berhenti dan aku dapat melarikan diri dari situasi ini. Wajahku masih terasa panas namun badanku gemetaran dan detak jantungku menjadi tak beraturan. Aku takut situasi ini malah memicu episodeku, aku tak mau mengalaminya didepan Aranda, ia pasti akan sangat ketakutan dan aku pasti tidak akan punya muka memasuki kelasnya lagi. Ia tentu akan melarikan diri dariku sebab siapa yang mau berdekatan dengan gadis yang memiliki gangguan mental? Biasanya aku tidak akan perduli, toh seumur hidupku tak ada satu orang pun yang mendekatiku karena gangguan mental ini, namun aku merasa Aranda berbeda dan aku ingin ia melihatku dengan berbeda, aku ingin ia melihatku seperti gadis normal lainnya bukan gadis dengan mental yang tidak stabil.
            Kurogoh tanganku kedalam tas ranselku dan mengambil antidepresan milikku. Tanganku bergetar ketika menelan pil itu dan dari sudut mataku aku melihatnya mengamatiku. Aku berusaha menelannya namun sulit karena aku tidak memiliki air. Ia menyodorkan sebotol air mineral dihadapanku.
            “Minumlah” ucapnya, aku mengambilnya dari tangannya dan mulai meneguknya. Aku mengembalikan botol itu kepadanya sembari menggumamkan terima kasihku.
            “Kamu sakit Raven?” tanyanya, aku menggeleng “Itu hanya vitamin pak, saya lupa meminumnya ketika makan siang tadi” dustaku. Ia mengangguk dan kembali menatap lurus kedepan. Getaran badanku mulai terhenti dan detak jantungku mulai normal, obat anti depresi ini selalu membantuku menenangkan syaraf-syarafku. Ku hela nafas lega dan kembali menunggu hujan reda.
ARANDA
            Aku memperhatikan ia sudah mulai tenang, tangan dan tubuhnya tak lagi gemetaran seperti sebelum ia meminum pil itu. Pil itu membuatnya tenang, membuatku berpikir apakah itu benar-benar vitamin atau sejenis obat terlarang? Aku berusaha mengingat dalam benakku jenis obat apa yang bisa membantu menenangkan syaraf morfin? Heroin? Sabu-sabu? Sepertinya semua obat terlarang bisa membuat peminumnya tenang. Pikiranku mengembara liar, apa Raven seorang pecandu? Mungkin itu satu-satunya alasan yang dapat menjelaskan perubahan sikapnya dan pil itu. Namun ada bagian dari diriku yang membantahnya, tidak mungkin dia gadis seperti itu. Gadis seperti apakah dia? Aku sama sekali tak mengenalnya sebelum hari ini dan ia hanya salah satu mahasiswiku dan sudah ada bagian diriku yang membelanya. Diam-diam ku perhatikan lagi wajahnya mencari pembuktian bahwa ia bukan pecandu, ia tidak kurus dan matanya tidak memiliki lingkaran hitam, tapi apa yang kuketahui tentang pecandu? Aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa.
            “Pak hujannya sudah berhenti” ucapnya seraya menoleh padaku, aku tersentak dan cepat-cepat mengalihkan pandanganku, aku tidak mau tertangkap basah menatapnya lagi. Ketika aku tidak menjawab ia berkata lagi.
            “Saya duluan ya Pak, permisi.” Ucapnya sembari tersenyum, dan senyum itu memperlihatkan dua lesung pipinya yang dalam membuatnya semakin cantik.
            “Ya, silahkan” ucapku  tercekat dan terpesona semua pemikiranku tentang pecandu itu hilang sirna, lalu Raven pun berlalu dari hadapanku meninggalkanku dengan sedikit ekstasi dari senyuman dan lesung pipinya yang menghipnotis.
ARANDA
            Malam itu setibanya dirumah aku membuka laptop dan mulai mencari ciri-ciri pencandu narkoba. Entah mengapa gadis itu benar-benar menyita otakku, padahal baru hari ini aku melihatnya. Ku buka halaman facebookku dan melihat banyak sekali permintaan pertemanan baru dari mahasiswaku salah satunya aku melihat sipirang Diandra, aku menggeleng sembari tersenyum melihat foto profilnya, benar-benar seksi dan menantang. Aku terus melihat kebawah namun aku tak melihat nama Raven. Kuketik namanya pada kotak pencarian, Raven Hernandita, Hernandita Raven, Raven H, Raven tapi tidak ada satupun pemilik akun dengan nama itu. Setelah puas mencari dengan nama-nama yang mungkin digunakannya aku menyerah dan mulai membaca artikel mengenai ciri-ciri pecandu yang kutemukan.
            Setelah 10 artikel kemudian mataku mulai perih dan aku menarik kesimpulan bahwa Raven bukan pecandu. Yah, kuharap demikian. Akhirnya kututup laptopku lalu melangkah ketempat tidur dan mulai memejamkan mata berharap malam ini aku dapat memimpikannya.
(Bersambung. . .)