Selasa, 09 Oktober 2018

Curhat!!



        Tahun 2018 memang belum berakhir tapi hampir berakhir dalam hitungan bulan yang dapat dihitung dengan satu tangan. Tahun ini dibuka dengan kejadian-kejadian biasa yang tidak terduga. Dan tahun ini aku merasa adalah tahun dimana aku mencapai the lowest point of my life. Bukan, bukan berarti aku tidak bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidupku, toh meskipun beberapa hal membuatku menitikkan air mata tetap saja ada hal-hal yang membuatku tersenyum.
       Tahun ini entah sudah beberapa kali kehilangan yang ku alami, mulai dari kehilangan benda-benda yang menurutku berharga, kehilangan pekerjaan yang kusukai, dan juga kehilangan seseorang yang (menurutku) aku sayangi. Pertengahan tahun ini, aku memulai menata kehidupanku lagi, beradaptasi lagi, dan mencoba bangkit setelah beberapa keterpurukan yang ku alami. Kejadian-kejadian yang terjadi sempat membuatku menyesali keputusan yang ku ambil, "Mengapa begini? Mengapa begitu? Coba dulu begini, coba dulu begitu", "Seharusnya aku tidak kemari, seharusnya aku tidak melakukan itu" dan hal hal lain yang tentu saja mengganggu kewarasan ku saat itu.
        Luka itu belum kering betul menurutku, perasaan terkhianati itu masih ada, tentu saja, dimana saat aku berusaha menata semuanya kembali, memulai dari nol, seseorang yang seharusnya mendukungku, malah berbalik badan meninggalkanku tanpa menoleh sedikitpun. Tapi perlahan aku belajar, ini hidupku, aku tidak membutuhkan dia untuk menguatkanku, aku kuat dan aku bisa, meski sendiri. Yang paling menyakitkan buatku, bukan ketika ia meninggalkan ku di masa-masa ku terpuruk, tapi bagaimana dia tidak jujur dengan perasaannya yang sebenarnya, dan malah berusaha menutupinya dariku, seandainya ia jujur dari awal, mungkin aku tidak akan merasa sebagai orang terbodoh didunia.
       Sekarang aku masih berusaha bangkit, menata kembali hidupku yang sempat porak-poranda, menutup hatiku untuk sementara dan mencari pijakan agar kakiku bisa berpijak lagi. Memang tidak mudah, masih ada terselip rasa penyesalan dan kata-kata seandainya disetiap hari-hariku, namun mau tidak mau, suka tidak suka, inilah keputusan yang sudah ku ambil, dan apa yang terjadi padaku sekarang adalah konsekuensi dari pilihanku, aku harus bertanggung jawab.
       Masih panjang jalanku untuk bisa pulih sepenuhnya, but i wont give up ini semua adalah proses menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dewasa lagi, badai pasti berlalu, dan didepan akan ada cahaya sesudah kegelapan.

Semangatlah DIRIku!!!


Rabu, 22 Agustus 2018

Jemu


Ah, aku jemu
Membiarkan kau terus berlari-lari dalam pikiranku
Mengelilingi saraf pusatku dengan semua ingatan tentangmu

Ah, aku jemu
Melihat bayang bayang dirimu yang berputar-putar dipelupuk mataku
Tiada bedanya aku membuka atau menutup mataku
Dirimu tetap ada disana

Ah, aku jemu
Aku ingin berhenti menyelipkan namamu disetiap doaku
Dalam semua dialog panjangku dengan pencipta
Kamu, Namamu masih mendominasi semuanya

Ah, aku jemu
Mereka pun bosan mendengarku terus mengulangmu
Semua serpihan serpihan kecil yang mungkin tidak berarti bagimu
Namun tetap melekat dalam hati dan ingatan ku

Ah, aku jemu
Aku ingin berhenti menjadi jemu
Aku ingin berhenti menjadi bosan
Aku ingin berhenti bersamamu
Aku ingin berhenti
Aku harus berhenti
Dan aku akan berhenti

Ah, aku jemu
Ya aku jemu
Mengingatmu


(Berastagi, 23 Agustus 2018)

Semoga jemu cepat berlalu dan kamu pun berlalu

Minggu, 19 Agustus 2018

Akan Ku Lupakan Dengan Ingatan


Hei kamu, ya kamu
Belum pernah aku setidak bersemangat ini sebelumnya, apalagi ketika ada seorang lelaki yang mengulurkan tangannya padaku dengan ucapan janji "Ya aku akan menjagamu"
Bagaimana aku bisa melangkah kemana-mana jika kau masih mengepungku dari segala penjuru?
Ah, itu bukan kamu, itu perasaanku, ya aku mengurung diriku sendiri dalam semua kenangan tentangmu.
Lupa? Tentu saja mustahil, karena kamu bilang kita tidak dirancang untuk melupakan, kita diciptakan untuk mengingat, aku yakin aku akan terus mengingatmu.
Tapi, tampaknya aku harus mulai belajar, aku harus terima, tidak ada lagi aku dan kamu
Kini hanya ada aku dan perasaanku dan serpihan kenangan tentangmu
Perasaanku, satu-satunya hal yang ku pentingkan dalam egoisnya duniaku
Perasaanku, satu-satunya hal yang ingin ku lindungi dari keegoisanm, satu satunya hal yang membuatku mau tak mau harus belajar mengikhlaskanmu.
Ya, aku egois, perasaanku lah yang menurutku paling penting,
Tapi, hei bukankah kamu juga?
Ah tidak, bukan hanya kamu dan aku, tapi semua orang akan mementingkannya.
Pada akhirnya aku belajar darimu, hidup ini tak melulu tentang cintaku, percuma aku mendebat semua orang dengan cintaku, percuma aku berkeras dengan cintaku, jika hanya aku yang merasakan cinta dan kamu tidak, percuma aku terus berteriak cinta cinta dan cinta, karena tampaknya cinta tak sepenting itu.
Hei kamu, iya kamu
Sepertinya hari ini aku harus benar-benar menerima
wajib hukumnya, aku terima, aku harus belajar mengikhlaskan,
Biarlah saat ini aku masih terbelenggu kenangan
Akan terus ku kunjungi kenangan tentangmu hingga nanti aku jemu dan berhenti
Aku akan melupakanmu, pasti akan kulupakan.
Aku akan lupakan dengan kenangan
Akan kulupakan dengan ingatan.

(Berastagi, 19 Agustus 2018)


Menulis adalah caraku melupakan


Senin, 13 Agustus 2018

Pergilah Jika Hatimu Meminta


Pergilah Jika Hatimu meminta

Sejenak pandanganku teralihkan oleh rupamu
Membawa keyakinan didalam hatiku
Namun ada ragu yang kerap mengganggu
Aku tak bisa terus menunggu
Dalam diam aku bertanya, apakah seperti ini tak mengapa?
Yang kutakutkan hanya kita berubah sia-sia

Pergilah jika hatimu meminta
Jangan senangkan aku dengan berpura-pura cinta
Aku tak ingin terus bertanya dalam gelombang rasa selusuk sukma 

Pergilah jika hatimu meminta
Aku tak punya kuasa apa-apa atasnya
Doakan saja seikhlasmu
Agar hatiku tak mengutuk kepergianmu

Pergilah jika hatimu meminta
Biarkan aku yang terjaga dalam luka
Menikmati setiap ikhlasnya jiwa
                          (SBK, 24 Februari 2018)




Jadi sebenarnya memang feeling perempuan ini luar biasa ya, bahkan berbulan bulan sebelumnya aku sudah bisa membaca tanda-tandanya. Yah, patah hati seperti ini diusia ini rasanya sudah tidak pantas.