Rabu, 04 November 2015

RAVEN (Part 2)

RAVEN(Part 2)
RAVEN
            Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan tempatku menghabiskan waktu selama 3 tahun terakhir ini.  Astronomi adalah kelas terakhirku hari ini tapi aku belum siap untuk pulang kerumah. Pemandangan yang kulihat 12 tahun terakhir ini selalu sama dirumah, Ibu yang menatapku penuh kekhawatiran. Tentu saja Ibunya memilih jalan itu untuk mengakhiri hidupnya, mungkin Ia takut kehilanganku dengan jalan yang sama. Tatapan itulah yang ingin aku hindari. Harus ku hindari. Setelah memasukkan kartu anggota kedalam mesin scan itu, aku melangkah menuju deretan paling belakang, barisan buku-buku fiksi kesukaanku. Ku ambil notebook dari ranselku dan mulai menghidupkannya. Yah, didunia nyata aku memang tidak punya teman, tapi disini aku bisa berpura-pura menjadi orang lain, orang normal dengan kepribadian yang menyenangkan dan bukan Raven.
            Jaringan wifi diperpustakaan ini sangat bagus dan tentu saja bebas dan gratis. Setelah browserku terbuka aku mulai mengetikkan alamat dan masuk kehalaman blogku. Disini aku menulis apa saja yang terlintas dalam benakku terkadang hanya jadwalku sehari-hari, make up review, cerita bersambung, resep masakan, dan ulasan-ulasan mata kuliah yang ku harap bisa membantu. Ketika jariku sudah mulai mengetik aku akan lupa dimana aku berada dan siapa aku sebenarnya.
            Ketika aku menutup laptopku hari sudah pukul 17:30, perpustakaan akan tutup setengah jam lagi. Ku bereskan semua catatan dan notebook ku serta menyusunnya kedalam ransel. Tiba-tiba salah satu buku catatanku terjatuh dan halamannya terbuka. Aku menatap buku itu didalamnya terdapat coretan-coretan tanganku ketika mata kuliah astronomi tadi, Aranda itu yang kutulis berulang-ulang, sontak saja wajahku memerah aku cepat-cepat memungutnya dan menjejalkannya kedalam tasku. Entah bagaimana teaching assistant itu masuk kedalam pikiranku dan menguasainya. Meskipun aku tak lagi menatapnya selama perkuliahan berlangsung tapi suara dan tatapannya membuatku terbakar dikursiku.
            Suara hujan turun membuatku menghentikan langkah kakiku menuju pelatarn parkir kampus. Aku berhenti didepan gedung dan menatap butiran air itu turun dari langit. Sepertinya hari ini aku akan pulang malam lagi dan hal itu membuatku lega sekaligus takut. Aku lega pulang lebih malam akan membuatku mudah menghindari kedua orangtuaku namun aku juga takut berjalan pulang sendirian ditengah kegelapan malam.
            “Raven. .” aku tersentak oleh suara itu dan merasakan pipiku mulai terbakar, karena meskipun baru sekali mendengarnya aku tahu persis pemilik suara ini.

ARANDA
            Aku melihatnya berjalan didepanku dengan kepala tertunduk, kampus telah sepi dan mata kuliah terakhir sudah berakhir sekitar 1 jam yang lalu, namun gadis ini masih berada dilingkungan kampus yang sunyi dan berjalan dengan langkah gontai. Ku ikuti dia menuju pintu keluar dan aku merasa seperti penguntit karenanya. Sejenak langkahnya terhenti, aku pun ikut berhenti. Aku bertanya-tanya apa yang membuatnya berhenti apa dia merasakan aku mengikutinya dan ia merasa takut? Perlahan-lahan aku berjalan mendekatinya dan aku melihat apa yang dilihatnya diluar, hujan.
            Aku ragu apa aku harus mendekatinya dan menyapanya atau hanya berdiri dibelakangnya seperti penguntit. Aku berjalan mendekatinya dan berdiri disampingnya namun sepertinya ia sama sekali tak menyadari keberadaanku disebelahnya, Ia terus saja menatap curah hujan itu. Aku mengamati setiap lekuk wajah cantiknya yang menawan, hidungnya yang mungil dan mencuat dan matanya yang menarik perhatianku. Aku menatapnya lekat-lekat selama beberapa menit dan sebelum sempat kucegah aku memanggil namanya.
            Ia berbalik menatapku dan wajahnya berubah kemerahan.
            “Kamu Raven kan? Mahasiswi dikelas astronomi saya?” tanyaku sembari berpura-pura ragu. Tentu saja aku mengingatnya, sejak pertama mataku menatapnya dan lidahku mengucapkan namanya mustahil aku bisa melupakannya. Ia tak langsung menjawabku ia hanya mengkerut dan kelihatan ketakutan melihatku, namun dari rona merah dipipinya aku tahu Ia tidak hanya ketakutan.
            “Ben. .benar Pak” jawabnya sembari menunduk menatap ujung sepatunya, dengan konyolnya aku pun ikut menatap ujung sepatunya. Ah dia memakai sneakers biru. Aku menggelengkan kepalaku entah apa yang kupikirkan sehingga gadis ini bisa memberikan pengaruh kuat seperti itu padaku. Aku berdehem dan bertanya lagi.
            “Baru selesai kuliahnya?” Ia menggeleng dan menatap kedepan. Sungguh gadis ini membuatku kehilangan kata-kata. Kami terdiam setelah percakapan itu, aku kehilangan kata-kata dan ia kelihatannya tidak mau melanjutkan percakapan. Kami berdiri berdampingan menatap hujan dalam diam dan aku sama sekali tak keberatan karena bersamanya aku merasakan kenyamanan.
RAVEN
            Aku berdoa dalam hati agar hujan cepat berhenti dan aku dapat melarikan diri dari situasi ini. Wajahku masih terasa panas namun badanku gemetaran dan detak jantungku menjadi tak beraturan. Aku takut situasi ini malah memicu episodeku, aku tak mau mengalaminya didepan Aranda, ia pasti akan sangat ketakutan dan aku pasti tidak akan punya muka memasuki kelasnya lagi. Ia tentu akan melarikan diri dariku sebab siapa yang mau berdekatan dengan gadis yang memiliki gangguan mental? Biasanya aku tidak akan perduli, toh seumur hidupku tak ada satu orang pun yang mendekatiku karena gangguan mental ini, namun aku merasa Aranda berbeda dan aku ingin ia melihatku dengan berbeda, aku ingin ia melihatku seperti gadis normal lainnya bukan gadis dengan mental yang tidak stabil.
            Kurogoh tanganku kedalam tas ranselku dan mengambil antidepresan milikku. Tanganku bergetar ketika menelan pil itu dan dari sudut mataku aku melihatnya mengamatiku. Aku berusaha menelannya namun sulit karena aku tidak memiliki air. Ia menyodorkan sebotol air mineral dihadapanku.
            “Minumlah” ucapnya, aku mengambilnya dari tangannya dan mulai meneguknya. Aku mengembalikan botol itu kepadanya sembari menggumamkan terima kasihku.
            “Kamu sakit Raven?” tanyanya, aku menggeleng “Itu hanya vitamin pak, saya lupa meminumnya ketika makan siang tadi” dustaku. Ia mengangguk dan kembali menatap lurus kedepan. Getaran badanku mulai terhenti dan detak jantungku mulai normal, obat anti depresi ini selalu membantuku menenangkan syaraf-syarafku. Ku hela nafas lega dan kembali menunggu hujan reda.
ARANDA
            Aku memperhatikan ia sudah mulai tenang, tangan dan tubuhnya tak lagi gemetaran seperti sebelum ia meminum pil itu. Pil itu membuatnya tenang, membuatku berpikir apakah itu benar-benar vitamin atau sejenis obat terlarang? Aku berusaha mengingat dalam benakku jenis obat apa yang bisa membantu menenangkan syaraf morfin? Heroin? Sabu-sabu? Sepertinya semua obat terlarang bisa membuat peminumnya tenang. Pikiranku mengembara liar, apa Raven seorang pecandu? Mungkin itu satu-satunya alasan yang dapat menjelaskan perubahan sikapnya dan pil itu. Namun ada bagian dari diriku yang membantahnya, tidak mungkin dia gadis seperti itu. Gadis seperti apakah dia? Aku sama sekali tak mengenalnya sebelum hari ini dan ia hanya salah satu mahasiswiku dan sudah ada bagian diriku yang membelanya. Diam-diam ku perhatikan lagi wajahnya mencari pembuktian bahwa ia bukan pecandu, ia tidak kurus dan matanya tidak memiliki lingkaran hitam, tapi apa yang kuketahui tentang pecandu? Aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa.
            “Pak hujannya sudah berhenti” ucapnya seraya menoleh padaku, aku tersentak dan cepat-cepat mengalihkan pandanganku, aku tidak mau tertangkap basah menatapnya lagi. Ketika aku tidak menjawab ia berkata lagi.
            “Saya duluan ya Pak, permisi.” Ucapnya sembari tersenyum, dan senyum itu memperlihatkan dua lesung pipinya yang dalam membuatnya semakin cantik.
            “Ya, silahkan” ucapku  tercekat dan terpesona semua pemikiranku tentang pecandu itu hilang sirna, lalu Raven pun berlalu dari hadapanku meninggalkanku dengan sedikit ekstasi dari senyuman dan lesung pipinya yang menghipnotis.
ARANDA
            Malam itu setibanya dirumah aku membuka laptop dan mulai mencari ciri-ciri pencandu narkoba. Entah mengapa gadis itu benar-benar menyita otakku, padahal baru hari ini aku melihatnya. Ku buka halaman facebookku dan melihat banyak sekali permintaan pertemanan baru dari mahasiswaku salah satunya aku melihat sipirang Diandra, aku menggeleng sembari tersenyum melihat foto profilnya, benar-benar seksi dan menantang. Aku terus melihat kebawah namun aku tak melihat nama Raven. Kuketik namanya pada kotak pencarian, Raven Hernandita, Hernandita Raven, Raven H, Raven tapi tidak ada satupun pemilik akun dengan nama itu. Setelah puas mencari dengan nama-nama yang mungkin digunakannya aku menyerah dan mulai membaca artikel mengenai ciri-ciri pecandu yang kutemukan.
            Setelah 10 artikel kemudian mataku mulai perih dan aku menarik kesimpulan bahwa Raven bukan pecandu. Yah, kuharap demikian. Akhirnya kututup laptopku lalu melangkah ketempat tidur dan mulai memejamkan mata berharap malam ini aku dapat memimpikannya.
(Bersambung. . .)

Senin, 19 Oktober 2015

CERBUNG (RAVEN) Part 1

hello girls lama banget rasanya nggak muncul didumay -_- soale kemaren sibunk banget sama dunia perskripsian :v hahaha alhamdulillah setelah lama berjuang dan bergulat dengan duini tersebut semuanya akhirnya kelar dengan hasil yang memuaskan, hahaha. saking sibuknya dengan dunia perskripsian sampai aku lupa sama dunia perskincarean, tapi belakangan aku lagi tidak mengorbankan wajahku untuk jadi tumbal :v hahaha, kali ini aku bakal coba ngepost yang namanya cerbung yang insya Allah bakal rutin diterbitkan, silahkan setelah dibaca masukkan komentar serta saran yak :D. Gamsahamnida 


RAVEN(Part 1)
RAVEN
            Masih ku ingat kejadian yang memicu episode pertamaku ketika berumur 9 tahun, nenek dari pihak ibuku meninggal pada hari itu. Nek Nur, begitulah biasa aku memanggilnya. Ketika itu semua berkata nek Nur meninggal karena sakit, namun setelah aku dewasa aku tahu bahwa nek Nur meninggal karena memotong pergelangan tangannya sendiri. Sebagai kanak-kanak aku cukup dekat dengan nek Nur, ketika Ibu memarahiku biasanya aku berlari dan bersembunyi dibelakang nenek ku, aku menyayanginya dan Ia pun menyayangiku. Kematiannya yang tiba-tiba membuatku terpukul dan depresi, aku mengurung diriku selama berhari-hari tanpa makan dan terlintas dipikiran untuk menyusulnya. Mula-mula Ayah dan Ibuku berpikir ini terjadi akibat depresi dan sedih kehilangan nenek namun kejadian itu terus berlanjut selama bertahun-tahun sampai akhirnya mereka curiga dan membawaku ke psikiater ternama di kota ku, dan akhirnya aku di diagnosa menderita bipolar.
            Sampai umur 21 tahun aku hidup tak terhitung sudah berapa banyak episode yang ku alami, mood swing ku yang terlalu cepat berubah membuatku berhati-hati dalam memilih teman bergaul, sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bergaul sebab bipolar depresive yang ku derita ini amat sangat berbahaya. Penyakit inilah yang membuat nek Nur mengakhiri hidupnya.
            “Raven Hernandita”
            Aku tersentak dari lamunan ku dan bergegas mengangkat tangan. Mata ku terpaku menatap tubuh tinggi yang berada didepan kelas. Seorang pria yang kelihatannya berumur dipertengahan 20an menatapku dengan tajam. Aku tidak ingat kapan ia masuk dan aku betul-betul tidak tahu dia siapa. Matanya yang gelap menatapku dengan intens sampai akhirnya aku jengah dan mengalihkan pandanganku ke whiteboard dibelakangnya.
ARANDA, nama itu tertulis dengan huruf tebal dan tegas, setelah aku membacanya pandanganku beralih kepada sosok itu yang sedang membaca daftar nama didepannya. Aranda, Aranda, Aranda nama itu terus menggema dikepala ku.
“Apakah masih ada yang belum diabsen?” Tanya Aranda, emm mungkin lebih tepatnya Pak Aranda. “Tidak Pak” semua mahasiswa yang hadir menjawab serempak.
“Seperti yang kalian baca didepan, perkenalkan nama Saya Aranda, Saya adalah teaching assistant yang akan mengajar kalian selama 16 pertemuan kedepan, menggantikan Dr. Hadinyoto yang sedang menyelesaikan studinya. Kegiatan perkuliahan kita terdiri atas 14 kali kegiatan perkuliahan regular dan 2 kali ujian, yaitu ujian mid semester dan ujian final. Saya mengharapkan partisipasi dan kerjasama kalian dalam kegiatan perkuliahan ini” pandangan pak Aranda bertemu denganku sembari ia menerangkan kegiatan yang akan kami laksanakan selama  16 minggu kedepan, Ia menatapku lekat-lekat, dan seluruh kelas berputar dibelakangku, tak satupun hal yang disampaikannya terdengar ditelingaku, hanya matanya yang dapat ku lihat dan seakan menyedotku dalam dunia imajinasi dan menahanku disana, namun kemudian ia mengalihkan pandangannya dan aku kembali tersentak kedalam kenyataan. Panas menjalar dikedua pipiku, aku yakin mukaku sekarang merah padam. Apa pantas aku bereaksi seperti ini pada teaching assistant? Pada asisten dosen? Apapun namanya dia tetaplah Guruku.

ARANDA
“Perkuliahan hari ini sampai disini saja, sampai jumpa minggu depan” ucapku seraya bergegas membereskan perlengkapan mengajar yang ada dimejaku, masih ada satu kelas lagi yang harus ku tangani sebelum hari ini berakhir. Satu per satu mahasiswa meninggalkan kelasku. Mata ku tertumbuk pada kursi barisan belakang pada gadis itu, yang tak lagi mengangkat kepalanya sejak mataku bertatapan dengannya. Seharusnya aku malu pada diriku sendiri, teaching assistant macam apa yang menatap mahasiswinya lama seperti itu, tapi tidak, tidak ada bagian diriku yang malu akan hal itu. Gadis itu, Raven ya Raven membereskan bukunya lalu bergegas keluar kelas tanpa mengangkat pandangannya, ia menabrak siswa yang berada di depan pintu lalu segera berlari tanpa meminta maaf.
Raven, nama yang cukup asing, orangtua mana yang menamai anak perempuannya Raven? Burung gagak? Namun setelah aku mencernanya nama itu memang cocok dengannya, rambut hitamnya yang panjang hingga pinggang berwarna hitam kelam, matanya cokelat tajamnya seakan menembus jiwa dan melihat apa yang tersembunyi disana. Raven cukup menarik, ia dapat dikatakan cantik dengan kulit kuning langsat, tulang pipi tinggi, hidung mencuat serta bibirnya yang mungil namun ada satu hal yang membuatnya terkesan misterius dan suram. Aku melihatnya melamun dengan tatapan mata kosong kearah jendela seakan-akan ia tidak berada dikelas tapi didunianya sendiri, mata itu tersentak ketika aku memanggil namanya. Ketika tatapan mata ku bertahan agak lama padanya, muka gadis itu berubah merah padam dan sejak itu ia tak lagi mengangkat kepalanya berpura-pura berkonsentrasi pada buku catatannya.
“Pak Aranda” suara feminim menyentakkan pandanganku dari pintu kelas, aku menoleh dan melihat sosok didepanku. “Ya, ada yang bisa saya bantu?” ucapku sembari tersenyum. Gadis ini menggigit bibirnya dan memilin rambut pirangnya, ia bertingkah seperti siswi SMA yang dulu pernah kuhadapi ketika praktik mengajar yang mungkin dulu ku anggap lucu jika siswi SMA yang melakukannya namun ini mahasiswi tingkat 3 yang mungkin umurnya sudah 21 tahun. Aku menunggunya selesai mengigiti bibirnya yang mungkin dianggapnya imut dan menarik perhatianku.
“Emmm Bapak ada waktu siang ini? Ada beberapa materi yang saya tidak paham. Apa bapak bisa menjadi tutor kami?” tanyanya sembari menyentakkan kepalanya kebelakang, aku melihat dua temannya si rambut merah dan yang satunya syukurlah memiliki warna rambut yang normal. Kembali ku alihkan pandangan ku pada si pirang didepan ku sembari tersenyum palsu, perkuliahan baru saja dimulai, materi apa yang tidak dia pahami? Aku tertawa dalam hati, namun tetap berusaha bersikap sesopan mungkin.
“Maafkan Saya. . .” ucapku sembari mengangkat alis “Diandra” ucapnya sembari kembali menggigit bibirnya. “Ah ya, Diandra saya ada dua kelas lagi siang ini jadi saya rasa tidak bisa” ucapku, Diandra kelihatan kecewa namun ia cepat-cepat menambahkan “Kalau sore ini pak? Setelah perkuliahan berakhir?” yang satu ini pantang menyerah kelihatannya. “Sore juga tidak bisa, saya ada mengajar les private” jawabku, yah tidak sepenuhnya bohong, masih ada satu kelas lagi dan malam aku memang memiliki siswa private tapi Diandra tidak perlu tahu. Sekali lagi mata itu memancarkan kekecewaan.”Baiklah pak mungkin lain kali, permisi pak” ucapnya sembari beranjak meninggalkan kelas sembari diikuti kedua temannya.
Kuhela nafas lega setelah grup itu meninggalkan ruanganku, salah satu tantangan menjadi teaching assistant muda adalah menghadapi situasi seperti ini, tahun ini adalah tahun kedua aku mengajar diuniversitas ini sebagai teaching assistant. Bagaimana pun aku seorang laki-laki normal ada kalanya aku senang dan terbawa suasana digoda oleh mahasiswi-mahasiswi yang usianya tidak jauh berbeda dengan ku. Namun hari ini tidak, pikiranku terkunci pada Raven dan aura misterius yang dipancarkannya.

(Bersambung. .)

Jumat, 30 Januari 2015

Pixy akuhhhhh


Helooooo girlssss! 
 Setelah sebulan kemaren sempat berhenti yang namanya pakai skincare -_- ternyata kulit aku yang manja ini tidak tahannn!!! auhhhh!!! kenapa? yah ternyata setelah berhenti pakai skincare, muka aku berubah jadi kusam banget -_- dan sangat mengerikan. ckckckckckc sampai sang bunda ratu pun bertanya.
Dengan pertimbangan matang-matang akhirnya aku kembali pakai produk-produk sang bunda yaituuuuuuuu Pixy yah Pixy, banyak yang bilang sih produk pixy itu termasuk produk keras tapiiii, aku liat muka bunda aku yang udah setia pakai pixy selama bertahun-tahun malah fine-fine aja -_- malah muka beliau makin kinclong dan tampak muda dari usia sebenarnya. aku juga heran kenapa aku berhenti pakai produk ini -_- masih labil kaliii yakkk hihihihihihihi. kita mulai deh review produk-produk pixy yang aku pakai dan alhamdulillah cocok di aku.

1. Pixy Radiant Finish Spotcare Beauty dan Complete Barrier
Sebelumnya aku pakai  Pixy Radiant Finish yang complete Barrier yang biru punya emak tercinta, aku suka banget sama pelembab ini, teksturnya halus, wanginya juga lembut, udah ada SPF 20 buat yang sering keluar rumah, diklaim juga bisa mencerahkan wajah, yah mungkin pada dasarnya kulit aku memang udah sawo matang kali yak, jadi yahh gak berpengaruh sama sekali hihihihihih. di muka aku sama sekali nggak breakout, jerawatan sih nggak banyak, masih dalam batas wajar. kalau pakai pelembab ini terus dilanjutun sama bedak tabur marcks hasilnya bagus banget. Kemarin aku pernah cerita kan, muka aku breakout karena pakai wardah yang acne series? jadi diwajah itu masih ada bekas-bekas noda jerawat yang mengganggu banget, apalagi kemarin aku sempat iseng pakai pelembab jeruk sariayu, aihhh muka aku tambah bopeng -_- dengan pertimbangan itu akhirnya aku mutusin ganti jadi yang spotcare yang pink. emmm overall produk ini sama seperti yang complete barrier hanya saja, creamnya agak lebih encer dibandingkan complete barrier, kalau soal menghilangkan noda  aku belum bisa banyak komentar, karena baru aja pakai.  (sumber gambar:sparksofdiamond.blogspot.com)

2. Pixy Facial Foam Brightening
kalau buat pembersih wajahnya, aku suka banget sama foam yang ini, nggak tau kenapa deh ya hahahaha. .pembersih ini adalah salah satu pembersih favorite akuuuuu, sukaaa banget deh pakai ini, rasanya setelah cuci muka, wajah itu bersih banget, minyak serasa lenyap ditelan muka (loh?) tapi nggak bikin kering, sebelum tidur kalau nggak cuci muka pakai ini wuihhh rasanya ada yng kurang. dari awal sih rasanya suka banget sama si pixy ini  harganya juga muraaa cekaleeeee, disini hanya sekitar 18rb buat yang gedeeee, dan pakainya juga gak usah banyak, jadi udah murceee hematt pula, bersih lagii, komplit dahhh. 



3. Pixy Single Step Liquid Foam for Makeup

Nah, perempuan kan suka banget tuh mencoret-coret wajah -_- termasuk aku juga, meskipun nggak berat-berat banget sih, paling cuma, pelembab, bb cream/foundie, bedak padat, pensil alis dan maskara, lipstik, itupun kalau pergi keacara-acara formal, atau sekedar hangout sama temen-temen kalau kekampus sih paling cuma, pelembab, bedak tabur dan lipgloss doang. ada kalanya rasa malas membersihkan wajah itu muncul, nah disinilah fungsi si single step ini, kalau buat yang make-up ringan kayak aku, biasanya cukup pakai pembersih ini, nggak usah pakai make up remover, cleansing milk, toner dan macam-macam, cukup pakai single step dalam satu langkah mudah. produk ini cocok diaku, apalagi setelah pakai make up, kalau pas lagi dirumah aja, paling cuma bersihin wajah pakai facial foam doang. di aku nggak bikin breakout, gatal2, alergi dan sebagainya.harganya sekitar 12rb-14rb buat yg ukuran 100 mL.


4. Pixy Milk Cleanser dan Face Toner.

Semua pixy yak? hahahaha, bunda aku termasuk orang yg perfeksionis, jadi kalau aku pakai satu produk, semuanya harus pakai ituuuu. kalau lagi rajin bersihin wajah pakai milk cleanser dan toner itu enak banget lohh, semua kotoran diwajah nampak nyata dikapas, dan setelah dibersihkan rasanya puasssss banget ngeliat kapas hitam-hitam hahaha, mungkin karena semuanya pixy kali yak, jadi nggak ada satu produk pun yang bikin breakout dimuka aku, muka aku tetap adem ayem aja, biasanya aku pakai milk cleansernya dulu terus dicuci pakai Facial Foamnya terakhir baru deh pakai tonernya habis itu tidur deh, tonernya juga sering aku pakai buat masker toner buat jerawat, caranya ambil kapas basahinpakai toner terus tempelkan diwajah berjerawat habis itu tidur deh :D besok paginya jerawat udah lumayan kempes, tapi yah jadinya boros banget -_-

5. Pixy BB Cream Perfect Fit
yang terakhir ini BB cream aku, masih dari pixy juga hehehe, yah aku jarang banget pakai yang namanya BB cream -_- biarpun muka bopeng-bopeng tapi tetap percaya diri :D hahahahahah (semoga aja nanti ada yang mau terima apa adanya) diaku yahhh bingung sih karena ini BB cream pertama aku jadi nggak tau deh bandingin sama produk lain. yang pasti nggak bikin breakout dan gak bikin tumbuh komedo juga, staying powernya lumayanlah, karena muka aku berminyak yah tetap aja 4-5 jam kemudian luntur.





Okayyy girls sampai disini dulu yak reviewan nyaaa tentang produk-produk pixy yang aku pakai. overall semuanya bagus dan cocok diaku, dan selain itu ini produk-produk juga murceeeee semua nggak ada yang diatas 50rb, cocok buat kantong mahasiswa yang masih mengadahhhkan tangan hahaha. semoga bermanfaat buat yang mau pakai yaaa, selamat siang bayaaaaaa :D