RAVEN(Part 2)
RAVEN
Kulangkahkan kakiku menuju
perpustakaan tempatku menghabiskan waktu selama 3 tahun terakhir ini. Astronomi adalah kelas terakhirku hari ini
tapi aku belum siap untuk pulang kerumah. Pemandangan yang kulihat 12 tahun
terakhir ini selalu sama dirumah, Ibu yang menatapku penuh kekhawatiran. Tentu
saja Ibunya memilih jalan itu untuk mengakhiri hidupnya, mungkin Ia takut
kehilanganku dengan jalan yang sama. Tatapan itulah yang ingin aku hindari.
Harus ku hindari. Setelah memasukkan kartu anggota kedalam mesin scan itu, aku
melangkah menuju deretan paling belakang, barisan buku-buku fiksi kesukaanku.
Ku ambil notebook dari ranselku dan mulai menghidupkannya. Yah, didunia nyata
aku memang tidak punya teman, tapi disini aku bisa berpura-pura menjadi orang
lain, orang normal dengan kepribadian yang menyenangkan dan bukan Raven.
Jaringan wifi diperpustakaan ini
sangat bagus dan tentu saja bebas dan gratis. Setelah browserku terbuka aku
mulai mengetikkan alamat dan masuk kehalaman blogku. Disini aku menulis apa
saja yang terlintas dalam benakku terkadang hanya jadwalku sehari-hari, make up
review, cerita bersambung, resep masakan, dan ulasan-ulasan mata kuliah yang ku
harap bisa membantu. Ketika jariku sudah mulai mengetik aku akan lupa dimana
aku berada dan siapa aku sebenarnya.
Ketika aku menutup laptopku hari
sudah pukul 17:30, perpustakaan akan tutup setengah jam lagi. Ku bereskan semua
catatan dan notebook ku serta menyusunnya kedalam ransel. Tiba-tiba salah satu
buku catatanku terjatuh dan halamannya terbuka. Aku menatap buku itu didalamnya
terdapat coretan-coretan tanganku ketika mata kuliah astronomi tadi, Aranda itu
yang kutulis berulang-ulang, sontak saja wajahku memerah aku cepat-cepat
memungutnya dan menjejalkannya kedalam tasku. Entah bagaimana teaching assistant
itu masuk kedalam pikiranku dan menguasainya. Meskipun aku tak lagi menatapnya
selama perkuliahan berlangsung tapi suara dan tatapannya membuatku terbakar
dikursiku.
Suara hujan turun membuatku
menghentikan langkah kakiku menuju pelatarn parkir kampus. Aku berhenti didepan
gedung dan menatap butiran air itu turun dari langit. Sepertinya hari ini aku
akan pulang malam lagi dan hal itu membuatku lega sekaligus takut. Aku lega
pulang lebih malam akan membuatku mudah menghindari kedua orangtuaku namun aku
juga takut berjalan pulang sendirian ditengah kegelapan malam.
“Raven. .” aku tersentak oleh suara
itu dan merasakan pipiku mulai terbakar, karena meskipun baru sekali
mendengarnya aku tahu persis pemilik suara ini.
ARANDA
Aku melihatnya berjalan didepanku dengan
kepala tertunduk, kampus telah sepi dan mata kuliah terakhir sudah berakhir
sekitar 1 jam yang lalu, namun gadis ini masih berada dilingkungan kampus yang
sunyi dan berjalan dengan langkah gontai. Ku ikuti dia menuju pintu keluar dan
aku merasa seperti penguntit karenanya. Sejenak langkahnya terhenti, aku pun
ikut berhenti. Aku bertanya-tanya apa yang membuatnya berhenti apa dia
merasakan aku mengikutinya dan ia merasa takut? Perlahan-lahan aku berjalan
mendekatinya dan aku melihat apa yang dilihatnya diluar, hujan.
Aku ragu apa aku harus mendekatinya
dan menyapanya atau hanya berdiri dibelakangnya seperti penguntit. Aku berjalan
mendekatinya dan berdiri disampingnya namun sepertinya ia sama sekali tak
menyadari keberadaanku disebelahnya, Ia terus saja menatap curah hujan itu. Aku
mengamati setiap lekuk wajah cantiknya yang menawan, hidungnya yang mungil dan
mencuat dan matanya yang menarik perhatianku. Aku menatapnya lekat-lekat selama
beberapa menit dan sebelum sempat kucegah aku memanggil namanya.
Ia berbalik menatapku dan wajahnya
berubah kemerahan.
“Kamu Raven kan? Mahasiswi dikelas
astronomi saya?” tanyaku sembari berpura-pura ragu. Tentu saja aku
mengingatnya, sejak pertama mataku menatapnya dan lidahku mengucapkan namanya
mustahil aku bisa melupakannya. Ia tak langsung menjawabku ia hanya mengkerut
dan kelihatan ketakutan melihatku, namun dari rona merah dipipinya aku tahu Ia
tidak hanya ketakutan.
“Ben. .benar Pak” jawabnya sembari
menunduk menatap ujung sepatunya, dengan konyolnya aku pun ikut menatap ujung
sepatunya. Ah dia memakai sneakers biru. Aku menggelengkan kepalaku entah apa
yang kupikirkan sehingga gadis ini bisa memberikan pengaruh kuat seperti itu
padaku. Aku berdehem dan bertanya lagi.
“Baru selesai kuliahnya?” Ia
menggeleng dan menatap kedepan. Sungguh gadis ini membuatku kehilangan
kata-kata. Kami terdiam setelah percakapan itu, aku kehilangan kata-kata dan ia
kelihatannya tidak mau melanjutkan percakapan. Kami berdiri berdampingan menatap
hujan dalam diam dan aku sama sekali tak keberatan karena bersamanya aku
merasakan kenyamanan.
RAVEN
Aku berdoa dalam hati agar hujan
cepat berhenti dan aku dapat melarikan diri dari situasi ini. Wajahku masih
terasa panas namun badanku gemetaran dan detak jantungku menjadi tak beraturan.
Aku takut situasi ini malah memicu episodeku, aku tak mau mengalaminya didepan
Aranda, ia pasti akan sangat ketakutan dan aku pasti tidak akan punya muka
memasuki kelasnya lagi. Ia tentu akan melarikan diri dariku sebab siapa yang
mau berdekatan dengan gadis yang memiliki gangguan mental? Biasanya aku tidak
akan perduli, toh seumur hidupku tak ada satu orang pun yang mendekatiku karena
gangguan mental ini, namun aku merasa Aranda berbeda dan aku ingin ia melihatku
dengan berbeda, aku ingin ia melihatku seperti gadis normal lainnya bukan gadis
dengan mental yang tidak stabil.
Kurogoh tanganku kedalam tas
ranselku dan mengambil antidepresan milikku. Tanganku bergetar ketika menelan
pil itu dan dari sudut mataku aku melihatnya mengamatiku. Aku berusaha
menelannya namun sulit karena aku tidak memiliki air. Ia menyodorkan sebotol
air mineral dihadapanku.
“Minumlah” ucapnya, aku mengambilnya
dari tangannya dan mulai meneguknya. Aku mengembalikan botol itu kepadanya
sembari menggumamkan terima kasihku.
“Kamu sakit Raven?” tanyanya, aku
menggeleng “Itu hanya vitamin pak, saya lupa meminumnya ketika makan siang
tadi” dustaku. Ia mengangguk dan kembali menatap lurus kedepan. Getaran badanku
mulai terhenti dan detak jantungku mulai normal, obat anti depresi ini selalu
membantuku menenangkan syaraf-syarafku. Ku hela nafas lega dan kembali menunggu
hujan reda.
ARANDA
Aku memperhatikan ia sudah mulai
tenang, tangan dan tubuhnya tak lagi gemetaran seperti sebelum ia meminum pil
itu. Pil itu membuatnya tenang, membuatku berpikir apakah itu benar-benar
vitamin atau sejenis obat terlarang? Aku berusaha mengingat dalam benakku jenis
obat apa yang bisa membantu menenangkan syaraf morfin? Heroin? Sabu-sabu?
Sepertinya semua obat terlarang bisa membuat peminumnya tenang. Pikiranku
mengembara liar, apa Raven seorang pecandu? Mungkin itu satu-satunya alasan
yang dapat menjelaskan perubahan sikapnya dan pil itu. Namun ada bagian dari
diriku yang membantahnya, tidak mungkin dia gadis seperti itu. Gadis seperti
apakah dia? Aku sama sekali tak mengenalnya sebelum hari ini dan ia hanya salah
satu mahasiswiku dan sudah ada bagian diriku yang membelanya. Diam-diam ku
perhatikan lagi wajahnya mencari pembuktian bahwa ia bukan pecandu, ia tidak
kurus dan matanya tidak memiliki lingkaran hitam, tapi apa yang kuketahui
tentang pecandu? Aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa.
“Pak hujannya sudah berhenti”
ucapnya seraya menoleh padaku, aku tersentak dan cepat-cepat mengalihkan
pandanganku, aku tidak mau tertangkap basah menatapnya lagi. Ketika aku tidak
menjawab ia berkata lagi.
“Saya duluan ya Pak, permisi.”
Ucapnya sembari tersenyum, dan senyum itu memperlihatkan dua lesung pipinya
yang dalam membuatnya semakin cantik.
“Ya, silahkan” ucapku tercekat dan terpesona semua pemikiranku
tentang pecandu itu hilang sirna, lalu Raven pun berlalu dari hadapanku
meninggalkanku dengan sedikit ekstasi dari senyuman dan lesung pipinya yang
menghipnotis.
ARANDA
Malam itu setibanya dirumah aku
membuka laptop dan mulai mencari ciri-ciri pencandu narkoba. Entah mengapa gadis
itu benar-benar menyita otakku, padahal baru hari ini aku melihatnya. Ku buka
halaman facebookku dan melihat banyak sekali permintaan pertemanan baru dari
mahasiswaku salah satunya aku melihat sipirang Diandra, aku menggeleng sembari
tersenyum melihat foto profilnya, benar-benar seksi dan menantang. Aku terus
melihat kebawah namun aku tak melihat nama Raven. Kuketik namanya pada kotak
pencarian, Raven Hernandita, Hernandita Raven, Raven H, Raven tapi tidak ada
satupun pemilik akun dengan nama itu. Setelah puas mencari dengan nama-nama
yang mungkin digunakannya aku menyerah dan mulai membaca artikel mengenai
ciri-ciri pecandu yang kutemukan.
Setelah 10 artikel kemudian mataku
mulai perih dan aku menarik kesimpulan bahwa Raven bukan pecandu. Yah, kuharap demikian.
Akhirnya kututup laptopku lalu melangkah ketempat tidur dan mulai memejamkan
mata berharap malam ini aku dapat memimpikannya.
(Bersambung. . .)

